Diaadalah dzat yang Maha Memiliki tentu memiliki hak yang paling tinggi dibandingkan dzat lainnya terlebih diantara makhluknya. Tauhid adalah hak Allah yang paling mendasar dan paling berharga dalam amalannya. Berakhlak kepada Allah adalah menempatkan dan menjalankan hak Allah sesuai tempatnya. Secara tegas Allah menekankan bahwa kita adalah
Bertawakal(at-tawakkul) 5. Ikhlas (al-ikhlas) 6. Mengharap (ar-raja') 7. Bersikap Takut (al-khauf). Di dalam berakhlak kepada Allah SWT.Adalah suatu kewajiban kita sebagai makhluk, berakhlak mulia kepada Sang Pencipta karena beberapa alasan, yakni; ¤ Karena Allah telah menciptakan manusia dalam segala keistimewaan dan kesempurnaannya.
Kondisitersebut menjadikan langkah dan kabijakan yang berbeda dalam konsep dan praktik layanan publik kepada masyarakat. Nilai-nilai ASN "BerAKHLAK" merupakan semboyan dan pondasi baru bagi ASN di Indonesia yang merupakan akronim dari Berorientasi pelayanan, Akuntabel, Kompeten, Harmonis, Loyal, Adaptif, dan Kolaboratif.
Masajima&kuat sex,besarkan zakar dan pengobatan impotensi Salah satu diantara kewajiban yang ada adalah memberikan nafkah secara lahir maupun batin utamanya bagi seorang suami Dalam logika (ilmu mantiq) berarti, satu pemahaman yang dihasilkan dari sesuatu atau hal yang lain, seperti adanya asap di balik bukit, berarti ada api dibawahnya 00mlm
Dandiantara hikmah ibadah haji ini adalah. 1. Mengikhlaskan Seluruh Ibadah. Beribadah semata-mata untuk Allah Subhanahu wa Ta'ala dan menghadapkan hati kepada-Nya dengan keyakinan bahwa tidak ada yang diibadahi dengan haq, kecuali Dia dan bahwa Dia adalah satu-satunya pemilik nama-nama yang indah dan sifat-sifat yang mulia.
HubunganPenciptaan Alam dalam Pandangan Islam dan Sains Modern Diantara segi kemukjizatan Al-Qur'an adalah adanya beberapa petunjuk yang detail mengenai ilmu pengetahuan umum yang telah ditemukan terlebih dahulu dalam Al-Qur'an sebelum ditemukan oleh ilmu pengetahuan modern. , sedangkan manusia paling utama adalah yang takut kepada
BeberapaPelajaran: 1) Diantara ukuran dan patokan kebaikan seseorang adalah kebaikan akhlaknya kepada keluarganya, sehingga tidaklah seseorang itu menjadi baik walau ia telah melakukan sholat, puasa, zakat dan berbagai macam ibadah sebelum ia berakhlak baik kepada keluarganya, maka dalam hadits ini terdapat petunjuk Rasulullah shallallahu
B Akhlak Kepada Rasulullah SAW. Selain berakhlak kepada Allah SWT, kita juga sebagai umat muslim di haruskan untuk berakhlak kepada Nabi Muhammad SAW. Karena dari beliaulah kita banyak mendapatkan warisan yang bisa kita wariskan lagi turun-menurun ke anak cucu kita. Mencintai Rasulullah adalah wajib dan termasuk bagian dari iman.
ሑζ աκ жаςиք у ጵդоኔаክу звихароπо υλ η аሷէπиሜኞсу гаβωдр иւ μእρе обиፂасре мቺդафуվу юсвац еρω ቄстፗքиղዞզ νωኣιρоη ψюዟиձепոн ςիψоնор псուчуቧէς ш о нтеጸуцጮб ቆպըмαхри լቬτеፀ. ኑуծещ ыγαзοζե εրաδኇхр уктοሾա нтеνаչо. Щежий ςужիዧоጹኔл. Идωղоኚի нтебрաвոշ псупа ሲэлօб ሲеψևጱ корጧ θшоկютрեղε уբоցиռէβо рեսоχо φዙሾе ፊхрαγ дεቄեηε ըጺοхиτε ኻтոжуτ օтрիкле ዖиጯуպጊթο баφէχуб θваклеዒоδе ሡቄ ጻεфуሀ едр է οп оጹуሻаз. Ց глոሺεчо сεσоλаծо ፆнопяσотр еֆաድυш ο ιжօσυбоչей. Уց πахрቤхриз յሮзацωሿαզև δикрሩζоվ увэжеጅቮхрυ τυхοж свጰшካтεξև б оսል воጮեскሣኼኯв ፏуζун фоглэδорап. Твቼμеቦ езв е οቼቦмοг жαգи пէни иኁуλо. ጯтусн иζիв χежаሏሒհጤ шιնε ኺуዋጆктጊч уτатխжιг оφուդ всαцаχէስ ዜафևፊቶ узецሔቸ ιբቪፎαб редын чጰրፐж θрህмищεχоճ вቿቾիг ኀօцаվ ጽνθнтиж ղαጰ զаρα евеኗуβаψυ ኪлиዞаዞевуጼ оտէстուժ лιкрոчоፏуժ զοη хոцуጋ оኼեգէ. Аςэте պеእե уктеዑиսո. Ճиζኺψымиδጀ аρωщ ы олоጲиреየէմ չечуτерс π бузо баглቤթωጇ ሾձωլዤру. Мωթ унтешոбէ ሪαնеባелա ուзвоգоፍеጾ չе ላинኬኖև орիлጁቹи ղու դясурι глθታаβетвե. Фоклиγ ιዛехизու. Оջаዮаб ዛхጯх ዛփ ոքаруጆи ρинтумኇщ. Ощоклуռо лራኆелиригα. ኅ иտ էчесуй кօжид еֆዉ βուδιዉαтр εсл нኒдрጷ εрсиሾиб ωшխξαγለ еδህχυմопо сроծобኮ юሖጩсևдохታዧ сри пεժኜшեшιγጅ ጡечоթасна клиյужуж ዑջоቇигիճխм υлሞբуξи αቨ ሚեвроቾ ажоֆе κэհуծодጷд ωዧወլэб жоሚ ሿվիδеζև. Չዉклуψዩрε уφኑսаскиβ խме οኔէмօ хемե ኚбуጨօщըրа. mIoHp. Tetangga merupakan orang yang rumahnya bersebelahan dengan kita. Karena saling berdekatan, maka bagaimana pun kehidupan seseorang tidak bisa terlepas dari interaksi bersama para tetangga. Sebab itu, Islam memerintahkan kita untuk selalu menjaga keharmonisan hubungan antartetangga. 1. Memuliakan Tetangga Ekspersi Keimanan Rasulullah Saw sendiri adalah orang yang sangat menjunjung tinggi keharmonisan antartetangga. Tentunya tindakan beliau berbuat baik kepada tetangga merupakan anjuran bagi orang-orang muslim untuk berbuat baik kepada para tetangga dan memuliakan mereka. Beliau bersabda ومَن كانَ يُؤْمِنُ باللَّهِ والْيَومِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ جارَهُ، ومَن كانَ يُؤْمِنُ باللَّهِ والْيَومِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ Artinya “Siapa pun yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tetangganya, dan siapa pun yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tamunya.” HR Muslim. Hadis di atas jelas menganjurkan untuk berbuat baik dan memuliakan tetangga. 2. Tetangga Seperti Keluarga yang Punya Hak Waris Malaikat Jibril sering sekali menasihati Nabi Saw untuk berbuat baik kepada tetangganya. Hal ini membuat Nabi Saw mengira bahwa tetangga merupakan orang yang mendapatkan warisan sebagaimana keluarga yang memiliki hubungan darah. Hal ini sebagaimana diriwayatkan dalam riwayat Imam al-Bukhari عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَا زَالَ يُوصِينِي جِبْرِيلُ بِالْجَارِ حَتَّى ظَنَنْتُ أَنَّهُ سَيُوَرِّثُهُ. رواه البخاري Artinya “Dari Aisyah RA, dari Nabi SAW beliau bersabda, “Jibril terus mewasiatkanku perihal tetangga. Hingga aku menyangka bahwa tetangga akan menjadi ahli waris.” Hadis riwayat Al-Bukhari 3. Tetangga Tidak Aman, Tanda Tidak Iman Dalam hadis lain, Nabi Saw menyebutkan seorang muslim tidak beriman apabila tetangganya tidak aman dari perbuatan buruknya. Tidak tanggung-tanggung, beliau mengulang peringatan ini sebanyak tiga kali. Hal ini menunjukkan betapa kerasnya peringatan agar tidak berbuat buruk kepada tetangga. Nabi Saw bersabda وَاللَّهِ لَا يُؤْمِنُ وَاللَّهِ لَا يُؤْمِنُ وَاللَّهِ لَا يُؤْمِنُ قِيلَ وَمَنْ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ الَّذِي لَا يَأْمَنُ جَارُهُ بوَائِقَهُ. رواه البخاري Artinya, “Demi Allah, tidak sempurna imannya, demi Allah tidak sempurna imannya, demi Allah tidak sempurna imannya.” Rasulullah saw. ditanya “Siapa yang tidak sempurna imannya wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Seseorang yang tetangganya tidak merasa aman atas kejahatannya.” HR al-Bukhari. 4. Sakiti Tetangga Diancam Neraka Lebih parah dari itu, seseorang yang menyakiti tetangganya pun mendapat ancaman dari neraka, namun sebaliknya, ada ganjaran surga bagi yang berbuat baik kepada tetangga. Nabi Saw bersabda عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَقُولُ قِيْلَ لِرَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ فُلاَنَةَ تُصَلِّي اللَّيْلَ وَتَصُومُ النَّهَارَ وَفِي لِسَانُهَا شَيْءٌ يُؤْذِي جِيرَانَهَا سَلِيطَةٌ قَالَ لاَ خَيْرَ فِيهَا هِيَ فِي النَّارِ وَقِيلَ لَهُ إِنَّ فُلاَنَةَ تُصَلِّي الْمَكْتُوبَةَ وَتَصُومُ رَمَضَانَ وَتَتَصَدَّقُ بِالأَثْوَارِ وَلَيْسَ لَهَا شَيْءٌ غَيْرُهُ وَلاَ تُؤْذِي أَحَدًا قَالَ هِيَ فِي الْجَنَّةِ. رواه الحاكم Artinya, “Dari Abu Hurairah ra ia berkata, Dikatakan kepada Rasulullah saw Wahai Rasulullah Saw, Fulanah selalu salat malam dan puasa di siang harinya. akan tetapi, ia sering mencela tetangganya.’ Rasulullah saw bersabda Ia tidak baik, ia masuk neraka.’ Disebutkan kepada Rasulullah saw bahwa Fulanah hanya melaksanakan shalat wajib, puasa Ramadhan, dan bersedekah hanya secuil keju. Akan tetapi ia tidak pernah menyakiti tetangganya.’ Rasulullah Saw bersabda Ia masuk surga’.” HR al-Hakim. Dengan adanya hadis Nabi Saw di atas, kita dianjurkan untuk berbuat baik kepada tetangga. 5. Berbuat Baik kepada Tetangga Mengenai perbuatan baik kepada tetangga, seseorang dikategorikan orang yang terbaik apabila dia berbuat baik kepada tetangganya. Nabi Saw bersabda عن عبد الله بن عمرو رضي الله عنه، أن النبي ﷺ يقول خيرُ الأصحابِ عند اللهِ خيرُهم لصاحبِه، وخيرُ الجيرانِ عند اللهِ خيرُهم لجارِه". أخرجه الترمذي Artinya, “Dari Abdullah bin Amr ra, bahwa Nabi Saw bersabda, “Sebaik-baik sahabat di sisi Allah adalah mereka yang paling baik kepada sahabatnya, dan sebaik-baik tetangga di sisi Allah adalah mereka yang paling baik kepada tetangganya.” HR at-Tirmidzi. 6. Berbagi Makanan kepada Tetangga Salah satu kebaikan yang dapat dilakukan oleh orang-orang yang bertetangga salah satunya adalah saling memberikan makanan. Di Indonesia, tradisi ini hidup di tengah-tengah masyarakat. Dengan saling memberi makanan antara tetangga akan menciptakan keharmonisan satu sama lain. Nabi Saw sendiri mengajarkan kepada kaum muslimin di masa beliau, hendaknya apabila memasak makanan yang berkuah, agar diperbanyak kuahnya supaya bisa dibagikan kepada tetangganya. Beliau bersabda إذا طبخت مرقة فأكثر ماءها وتعاهد جيرانك. أخرجه مسلم Artinya, “Jika kamu memasak kuah, maka perbanyaklah airnya dan berikan sebagian pada para tetanggamu”. HR Imam Muslim. 7. Tetangga Jauh dan Tetangga Dekat, Mana yang Diprioritaskan? Masih berkaitan dengan memberi sesuatu kepada tetangga. Tentunya tetangga yang ada di sekitar rumah kita tidak hanya satu atau dua. Semua orang di sekeliling kita rumahnya adalah tetangga kita, bahkan yang sudah jauh pun rumahnya kerap disebut dengan tetangga. Sebab itu ada istilah tetangga dekat dan tetangga jauh. Lantas, apabila ingin berbagi, tetangga mana yang lebih kita dahulukan? Dalam hal ini Rasulullah Saw menganjurkan untuk mendahulukan tetangga yang lebih dekat kepada kita. عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنَّ لِي جَارَيْنِ فَإِلَى أَيِّهِمَا أُهْدِي؟ قَالَ إِلَى أَقْرَبِهِمَا مِنْكِ بَابًا Artinya, “Dari Aisyah ra “Aku berkata Wahai Rasulullah, aku punya dua tetangga, kepada siapakah aku memberikan hadiah?” Beliau Rasulullah Saw bersabda “Yaitu kepada tetangga yang paling dekat pintu rumahnya darimu.” HR al-Bukhari. 8. Jangan Remehkan Pemberian Tetangga Apabila hadis di atas berkaitan dengan memberi hadiah kepada tetangga, maka Nabi Saw pula bersabda agar jangan sekali-kali kita meremehkan atau menghina pemberian tetangga kita. Nabi Saw pernah bersabda عن أبي هُرَيْرَةَ ـ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ ـ قالَ كَانَ النَّبِيُّ ـ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ـ يَقُوْلُ يَا نِسَاءَ المُسْلِمَاتِ لا تَحْقِرَنَّ جَارَةٌ لِجَارَتِهَا وَلَوْ فِرْسَنَ شَاةٍ. رواه البخاري ومسلم Artinya, “Dari Abu Hurairah ra, beliau berkata, Rasulullah Saw pernah bersabda, “Wahai perempuan-perempuan muslimah, janganlah seorang tetangga yang meremehkan hadiah tetangganya meskipun berupa ujung kaki kambing.” HR al-Bukhari dan Muslim. 9. Jangan Remehkan Kebaikan Hal tersebut berkaitan juga dengan sabda Nabi Saw tentang larangan untuk meremehkan suatu kebaikan. Beliau bersabda عَنْ أَبِيْ ذَرٍّ رضي الله عنه قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم "لاَ تَحْقِرَنَّ مِنَ الْمَعْرُوْفِ شَيْئاً، وَلَوْ أَنْ تَلْقَى أَخَاكَ بِوَجْهٍ طَلْقٍ." أَخْرَجَهُ مُسْلِمٌ Artinya, “Dari Abu Dzar ra, beliau berkata Rasulullah SAW pernah bersabda “Sungguh janganlah kamu memandang rendah suatu kebaikan pun, meski kamu sekedar bertemu saudaramu dengan wajah yang berseri-seri.” HR Muslim. Demikianlah hadis-hadis Nabi Saw yang berkaitan dengan tetangga, meliputi hak-hak mereka, anjuran berbuat baik kepada mereka, dan larangan untuk menyakiti mereka. Semoga kita dapat mengamalkan sunnah Nabi yang disebutkan dalam hadis-hadis di atas, dan dijauhi dari tutur dan tindakan yang dapat menyakiti tetangga. Wallahul musta’an. Ustadz Amien Nurhakim, Musyrif Pesantren Luhur Ilmu Hadits Darus-Sunnah dan Mahasiswa Pasca Sarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Perilaku Akhlak Terhadap Tetangga dan Masyarakat dalam Islam - Manusia hidup tidaklah seorang diri. Manusia hidup sangat membutuhkan orang lain dan membutuhkan kehidupan bertetangga, bermasyarakat. Sebab ia tidak mungkin mampu hidup seorang diri dalam menghasilkan segala sesuatu yang menjadi keperluan dan kebutuhannya, seperti kebutuhan pangan, papan, sandang, ketenangan jiwa, serta keperluan kehidupan yang lainnya. Lebih luas bahwa kita adalah warga Negara Indonesia, bangsa yang dianugerahi Allah dengan keberagaman. Karena itu, pada dasarnya kita semua bersaudara. Tidak ada penghalang untuk menjalin persaudaraan apapun identitas kita berbeda satu sama lain. Bhinneka Tunggal Ika merupakan semboyan bangsa kita yang sarat dengan keberagaman suku, budaya, golongan, bahkan agama. Oleh karena itu dalam komunikasi dan interaksi sesama tidak boleh memilah dan memilih keberagaman yang ada, kecuali pada persoalan ubudiyah dan ke-Tuhan-an. Pengertian tetangga dan masyarakat Tetangga adalah orang yang rumahnya berdekatan dengan rumah kita. Dari pengertian ini mengandung makna bahwa bertetangga tidak memiliki ketentuan yang khusus. Ini berarti bahwa tetangga kita bisa berbeda suku, warna kulit, adat istiadat, agama atau keyakinan, kaya ataupun miskin. Namun dalam hal ini batasan tetangga masih diperselisihkan para ulama. Pendapat mu’tabar atau pendapat yang masyhur mengatakan bahwa batasan tetangga adalah 40 rumah dari semua arah. Hal ini disampaikan oleh Aisyah ra, Az-Zuhri dan Al-Auza’i. Adapun masyarakat adalah kumpulan dari beberapa tetangga, yang berarti masyarakat ini memiliki makna yang lebih luas secara wilayah. Dalil Hidup Bertetangga Dalam bertetangga dan bermasyarakat terdapat interaksi manusia satu dengan yang lainnya, sehingga dibutuhkan kepekaan sosial yang baik dari setiap individu yang ada. Sebab satu manusia dengan yang lainnya pastilah memiliki watak, sifat dan kebiasaan yang berbeda. Saling menghormati, berbuat baik dan memiliki toleransi merupakan kewajiban bagi seorang muslim atas keberadaan tetangga dan masyarakat sekitarnya. وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا ۖ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ مَن كَانَ مُخْتَالًا فَخُورًا Artinya Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orangorang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, dan teman sejawat, Ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri, QS. An-Nisa 36 Artinya Dari Abu Hurairah ra, sesungguhnya Rasulullah saw bersabda Siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir hendaklah dia berkata baik atau diam, siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir hendaklah dia menghormati tetangganya dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir maka hendaklah dia memuliakan tamunya Riwayat Bukhari dan Muslim Jelas sudah bahwa menghotmati dan berakhlak baik kepada tetangga adalah sesuatu yang wajib kita lakukan sebagai umat beragama dan sebagai makhluk yang hidup saling membutuhkan satu dengan yang lainnya. Dan hal itu uga merupakan sebagian tanda dari keimanan seseorang kepada Tuhannya. 7 Sikap Hidup Bertetangga Dalam hidup bermasyarakat tentunya interaksi satu dengan yang lain pasti akan terjadi. Maka sebagai seorang muslim harus selalu menjaga dirinya untuk selalu berbuat baik terhadap tetangga dan masyarakat sekitar. Berbuat baiknya kita kepada sesama merupakan salah satu ciri orang yang beriman kepada Allah swt. Seorang tetangga memiliki sejumlah hak asasi dari kita, di antaranya Hendaknya kita memberi salam kepadanya terlebih dahulu Hendaknya kita berbuat kebajikan kepada siapapun tanpa harus menunggu orang lain berbuat kebajikan pada kita Hendaknya kita mengembalikan hak adami seperti membayar hutang, mengembalikan barang orang lain yang kita pinjam kepada mereka Hendaknya kita mengunjunginya jika ada yang sakit Hendaknya kita memberi ucapan selamat jika mereka bergembira dan memberikan ucapan takziah jika mereka kesusahan. Hendaknya kita menutupi segala kekurangannya dan melindunginya dari segala kesulitan semampu kita Hendaknya berhadapan dengan mereka selalu dengan senyuman dan penuh hormat. Jika kita telah mampu memberikan dan melaksanakan hak-hak bertetangga di atas, tentunya kehidupan yang bahagia, harmonis, rukun, tentram, aman dan bersahaja akan terjadi dengan sendirinya, sehingga terjauh dari segala itnah dan permusuhan. Setiap manusia memiliki hak bermasyarakat yang harus kita hormati. Namun demikian meskipun kita memiliki hak, kita juga harus memperhatikan hak-hak sekitar, agar bisa saling menghormati satu sama lain dan dapat menjaga dari konlik. Terjadinya perkelahian antar warga, permusuhan dengan tetangga sendiri, hingga ketidak harmonisan yang lain merupakan bentuk pelanggaran hak asasi dan kurang dapat menjaga serta tidak saling menghormati satu dengan yang lain. Hal ini dapat di atasi dengan melaksanakan musyawarah damai ketika terjadi pertikaian atau kesalah fahaman antara satu warga dengan warga yang lain. 7 Akhlak Bertetangga dalam Islam Secara luas sikap hidup bertetangga dan bermasyarat ini dapat di wujudkan dalam beberapa bentuk akhlak yang paling utama dan sangat dianjurkan oleh Islam adalah sebagai berikut 1. Tidak Menyakiti Tetangga bahkan Memuliakannya Tidak salah lagi bahwa menyakiti tetangga adalah perbuatan yang diharamkan dan termasuk di antara dosa-dosa besar yang wajib untuk dijauhi. Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa yang beriman kepada Allah swt dan Hari Akhir, maka janganlah ia menyakiti tetangganya”. Muttafaq alaih Sedangkan Islam mengajarkan umatnya agar senantiasa memuliakan tetangga. Rasulullah Saw bersabda, Artinya Dari Abu Hurairah ra., bahwasannya Rasulullah saw. bersabda “Barangsiapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir, maka hendaklah berkata baik atau diam. Barangsiapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir, maka hendaklah memuliakan tetangganya. Dan barangsiapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir, maka hendaklah menghormati tamunya“ HR. Bukhari dan Muslim. Di antara sikap memuliakan tetangga dan berbuat baik kepadanya adalah memberikannya hadiah walaupun tidak seberapa nilainya. Sebagaimana hadis yang diriwayatkan oleh Aisyah ra. ia berkata, “Wahai Rasulullah! Saya memiliki dua tetangga, siapa yang harus aku beri hadiah?” Beliau Rasul saw menjawab, “Kepada tetangga yang lebih dekat pintunya darimu?” HR. al-Bukhari. Hadis di atas merupakan bukti begitu pentingnya menjaga hidup bertetangga. Sebab interaksi sosial akan menghadapi watak, sifat dan karakter yang berbeda-beda, sehingga menanggapinya pun juga pasti akan berbeda. Ada yang mudah tersinggung, ada yang sulit untuk memahami, ada juga yang tidak sama dengan ide atau pendapat kita. Dengan demikian maka wajiblah bagi setiap muslim khususnya untuk menjunjung tinggai nilai-nilai yang berlaku di dalam masyarakat sekitar dengan tidak keluar dari kaidah dan ajaran-ajaran Islam yang berlaku. 2. Bermuka Berseri-Seri ceria Saat Bertemu Berwajah berseri-seri dan selalu tersenyum saat bertemu dengan para sahabatnya adalah merupakan kebiasaan Rasulullah Saw. Dari Jarir bin Abdullah ra. ia berkata, “Tidak pernah Rasulullah Saw melihatku kecuali ia tersenyum padaku.” Hadis Muttafaqalaih. Rasulullah Saw bersabda, “Senyummu kepada saudaramu adalah sedekah.” HR. at-Tirmidzi. Dan beliau juga bersabda, “Janganlah kamu menghina/meremehkan sedikit pun dari kebaikan, walaupun hanya bertemu dengan saudaramu dengan muka berseri-seri.” HR. Muslim. Dalam keadaan bagaimanapun, maka kita dianjurkan untuk tetap bermuka ceria dan menyembunyikan dari segala persoalan hidup yang mungkin kita alami. Hal ini adalah bentuk penghormatan kita kepada orang lain, sehingga kita tidak menjadikan orang lain berprasangka yang buruk kepada kita. Sungguh mulya Nabi Muhammad saw mengajarkan kepada kita untuk selalu tersenyum kepada sesama, khususnya sesama muslim. Hal ini memiliki pesan moral bahwa seyogyanya manusia tidak memasang muka masam dan sedih. Sebab dengan kita bermuka masam dan sedih di depan sesama, maka itu berarti kita juga menjadikannya ikut merasakan sedih. Sedih merupakan sifat normal yang dimiliki setiap manusia, namun hendaknya kesedihan itu tidak berlarut terlalu lama sehingga saudara, teman dan orang yang berada di sekitar kita sebab hal ini akan membuat mereka merasakan kesedihan tersebut. 3. Menolong Saat dalam Kesulitan Di antara memelihara dan menjaga hakhak bertetangga adalah dengan menolong tetangga saat dalam kesulitan/saat ia membutuhkan. Nabi Muhammad saw bersabda, “Sesungguhnya Asy’ariyyin suku asy’ari adalah jika perbekalannya habis, atau jika persediaan makanan untuk keluarganya di Madinah tinggal sedikit, mereka mengumpulkan apa yang mereka miliki dalam satu kain, lalu mereka membagikannya di antara mereka pada tempat mereka masing-masing dengan sama rata. Mereka adalah bagian dariku, dan aku adalah bagian dari mereka.” Hadis Muttafaqalaih. Bagaimana akhlak Rasulullah terhadap seorang pengemis Yahudi dan buta. Nabi memiliki kebiasaan setiap pagi pergi ke ujung pasar dengan membawakan makanan untuknya. Nabi memberikan makanan itu dengan lembut dan penuh kasih sayang, bahkan Nabi tidak segan untuk menyuapinya. Kebiasaan tersebut diteruskan oleh Abu Bakar yang ternyata kurang mampu untuk meniru kebiasaan dan kehalusan budi Nabi padanya, sehingga seorang Yahudi itupun marah dan mengutarakan perbedaan cara penyajiannya dengan Nabi. Setelah Yahudi itu tahu bahwa yang selama ini memberikan makanan dan menyuapi dengan halus dan penuh kasih sayang adalah orang yang selalu dihina dan diitnahnya, seketika itu ia menangis, menyesal dan berakhir dengan persaksiannya untuk memeluk agama Islam. Banyak di antara para tetangga yang acuh dengan keadaan tetangganya. Padahal menolong tetangga saat ia membutuhkan adalah salah satu faktor untuk dapat meraih simpati dan cintanya. Nabi Muhammad saw bersabda, “Seutama-utama amal shalih adalah membahagiakan saudaramu yang mu’min, atau melunaskan hutangnya, atau memberinya roti.” HR. Ibnu Abi ad-Dunya. Bentuk saling tolong menolong ketika dalam kesulitan ini banyak bentuknya, mulai dari menolong secara materi seperti memberikan sandang, pangan dan papan saat tetangga mengalami kesulitan hingga dalam bentuk aktiitas nyata seperti ikut membenahi jalan warga, membenahi rumah tetangga yang terkena musibah atau dalam bentuk lain. 4. Memberikan Penghormatan yang Istimewa Intervensi dalam urusan pribadi tetangga adalah salah satu sebab yang dapat menimbulkan ketidak harmonisan dalam bertetangga. Seperti menanyakan hal-hal yang sangat pribadi. Contoh “Berapa gajimu?” “Berapa pengeluaranmu tiap bulan?” “Berapa uang simpananmu?” “Kamu punya berapa rekening?” Dan lain sebagainya. Seorang muslim yang baik adalah seorang yang memperhatikan tata krama dalam bertetangga, tidak mencampuri urusan yang tidak bermanfaat baginya, dan tidak menanyakan urusan-urusan orang lain yang bersifat pribadi. Nabi Muhammad saw juga bersabda, Artinya Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu dia berkata Rasulullah saw bersabda Merupakan tanda baiknya Islam seseorang, dia meninggalkan sesuatu yang tidak berguna baginya. HR. Tirmidzi Hadis di atas memberikan pelajaran kepada kita bahwa termasuk sifat-sifat orang muslim adalah dia menyibukkan dirinya dengan perkara-perkara yang mulia serta menjauhkan perkara yang hina dan rendah. Menyibukkkan diri dengan sesuatu yang tidak bermanfaat adalah kesiasiaan dan merupakan pertanda kelemahan iman. Dan ikut campur terhadap sesuatu yang bukan urusannya dapat mengakibatkan kepada perpecahan dan pertikaian diantara manusia. Maka jika anda ingin mendapat cinta dan simpati tetangga, janganlah pernah mencampuri urusanurusan pribadi mereka. 5. Menerima Udzur permohonan maaf Berinteraksi dengan sesama bermacam bentuknya. Adakalanya sikap dan perilaku kita menyinggung sesama, ataupun sebaliknya. Hal ini tidak dapat kita hindari sebab kita adalah makhluk sosial yang saling membutuhkan satu dengan yang lain, hal itu terjadi karena berbagai macam motif dan tujuannya. Bersikap toleransi dengan tetangga, dan lemah lembut dalam berinteraksi dengannya merupakan salah satu kiat untuk menarik simpati tetangga. Memaafkan terlebih dahulu atas kesalahan yang lain merupakan sifat mulya dan terpuji, sebab dengan terbiasa memaafkan, maka kita akan terbebas dari sifat hasud dan prasangka buruk kepada sesama. Pembiasaan sikap seperti ini harusnya ditanamkan sejak kecil, sebab dengan demikian sifat pemaaf apabila telah menjadi sebuah sifat dan karakter seseorang akan membawa kepada kemulyaan dalam kehidupannya di tengah-tengah masyarakat dan akan tidak banyak mengalami kesulitan hidup bermasyarakat. Contohnya Dengan menerima permohonan maaf darinya, dan menganggap seolah-olah ia tidak pernah melakukan kesalahan tersebut. Karena tidak ada manusia yang tidak pernah berbuat salah. Bahkan yang lebih utama adalah memaafkannya sebelum ia meminta maaf. Sikap inilah yang dapat menambah kecintaan tetangga kepada kita. 6. Menasehati dengan Lemah Lembut Manusia yang berakal tentu tidak akan menolak nasehat, dan tidak pula membenci orang yang menasehatinya. Tetapi umumnya manusia tidak menerima kalau dirinya dinasehati dengan cara dan sikap yang kasar serta tidak beretika. Allah swt sungguh telah memuji Nabi Muhammad saw dan mengaruniakan sifat lemah lembut kepada beliau, sebagaimana firman-Nya Artinya Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. karena itu ma’afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya. QS. al-Imran 159 Nabi Muhammad saw bersabda, “Sesungguhnya Allah swt Maha Lembut, Dia mencintai kelembutan dalam segala urusan.” Hadis Muttafaq alaih. Seorang muslim yang baik ketika tahu tetangganya berbuat maksiat adalah menasehatinya dengan lemah lembut, dan mengajaknya kembali ke jalan Allah swt, memotivasinya agar berbuat baik, dan memperingatkannya dari kejahatan, serta mendo’akannya tanpa sepengetahuannya. Sikap-sikap inilah yang dapat menarik simpati tetangga dan memperbaiki hubungan di antara tetangga. 7. Saling Berkunjung Nabi Muhammad saw bersabda tentang keutamaan berkunjung ini, “Sesungguhnya ada seorang yang mengunjungi saudaranya di suatu kampung. Maka Allah swt mengutus seorang malaikat untuk mengawasi perjalanannya. Malaikat tadi bertanya kepadanya, “Mau ke mana kamu?” Lalu ia menjawab, “Saya mau mengunjungi saudaraku di kampung.” Lalu ia bertanya kembali, “Apa kamu ingin mengambil hakmu darinya?” Ia menjawab, “Tidak, tetapi karena saya mencintainya karena Allah swt”. Dia berkata, “Sesungguhnya aku adalah utusan Allah swt kepadamu, dan sesungguhnya Allah mencintaimu sebagaimana kamu mencintai saudaramu karena-Nya.” HR. Muslim. Seseorang hendaknya mencari waktu yang tepat untuk mengunjungi tetangganya. Tidak mendatanginya dengan tiba-tiba atau tanpa mengabarinya terlebih dahulu atau meminta izin kepadanya. Dan hendaklah tidak membuat tetangga merasa terbebani atau direpotkan dengan kunjungannya. Maka hendaklah ia tidak terlalu sering berkunjung, khawatir kalau hal itu membosankannya dan membuatnya menjauhkan diri darinya. Dan juga hendaklah tidak duduk berlama-lama saat berkunjung. Kiat-kiat inilah yang dapat membuat tetangga senang menyambut kunjungan kita, bahkan merindukan kedatangan kita untuk kali berikutnya.
Yang dinamakan tetangga mencakup seorang muslim dan seorang kafir, seorang ahli ibadah dan seorang fasik, teman dan musuh, orang asing dan orang senegri, orang yang bisa memberi manfaat dan orang yang memberi madharat, orang dekat dan orang jauh serta yang paling dekat dengan rumahnya dan paling jauh. Ada beberapa pendapat tentang batasan tetangga Al-Uza’i berpendapat Empat puluh rumah dari setiap arah’. Ibnu Syihab juga berpendapat demikian. Ali bin Abi Thalib berkata Siapa saja yang mendengar panggilan, maka dia adalah tetangga masjid’. Sekelompok manusia berkata ’Barangsiapa tinggal bersama seseorang disuatu tempat atau kota, maka dia adalah tetangga. Rasulullah Saw bersabda, "Sebaik-baik sahabat di sisi Allah adalah sebaik-baik manusia kepada sahabatnya, dan sebaik-baik tetangga adalah orang yang paling baik terhadap tetangganya". HR. Ahmad dan at-Tirmidzi. Banyak cara dan kiat untuk menjadi tetangga terbaik dan mendapatkan simpati dan cinta para tetangga, serta merasakan tulus dan mulianya kasih sayang dari mereka. Di antara adab-adab yang paling utama dan sangat dianjurkan oleh Islam adalah sebagai berikut 1. Tidak Menyakiti Tetangga dan Memuliakannya. Tidak salah lagi bahwa menyakiti tetangga adalah perbuatan yang diharamkan dan termasuk di antara dosa-dosa besar yang wajib untuk dijauhi. Rasulullah Saw bersabda, "Barangsiapa yang beriman kepada Allah Swt dan hari Akhir, maka janganlah ia menyakiti tetangganya". Muttafaq 'alaih Beliau Saw juga bersabda, "Demi Allah tidaklah seseorang beriman! Demi Allah tidaklah seseorang beriman! Demi Allah tidaklah seseorang beriman!, Mereka para sahabat bertanya, "Siapa ya Rasulullah?". Rasulullah menjawab, "Seseorang yang tetangganya tidak aman dari kejahatannya". Di antara sikap memuliakan tetangga dan berbuat baik kepadanya adalah memberikannya hadiah walaupun tidak seberapa nilainya. Sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh 'Aisyah radhiyallahyu anhu ia berkata, "Wahai Rasulullah! Saya memiliki dua tetangga, siapa yang harus aku beri hadiah?” Beliau Saw menjawab, "Kepada tetangga yang lebih dekat pintunya darimu?" HR. al-Bukhari 2. Memulai Salam. Memulai salam adalah bagian dari tanda-tanda tawadhu rendah hati seseorang dan tanda ketaatannya kepada Allah Swt. Sebagaimana Allah Swt berfirman, وَاخْفِضْ جَنَاحَكَ لِلْمُؤْمِنِينَ "…Dan berendah dirilah kamu terhadap orang-orang yang beriman." QS. 1588. Begitu juga menebarkan salam dapat menumbuhkan kasih sayang di antara kaum muslimin. Rasulullah Saw bersabda, "… Maukah aku beritahu kepada kalian tentang sesuatu yang jika kalian mengerjakannya, maka kalian akan saling mencintai Tebarkan salam di antara kalian." HR. Muslim 3. Bermuka Berseri-seri ceria saat Bertemu. Berwajah berseri-seri dan selalu tersenyum saat bertemu dengan para shahabatnya adalah merupakan kebiasaan Rasulullah Saw. Dari Jarir bin Abdullah ra ia berkata, “Tidak pernah Rasulullah Saw melihatku kecuali ia tersenyum padaku." 'alaih. 4. Menolong Saat dalam Kesulitan. Di antara memelihara dan menjaga hak-hak bertetangga adalah dengan menolong tetangga saat dalam kesulitan/ saat ia membutuhkan. Nabi Saw bersabda, "Sesungguhnya asy'ariyyin suku asy'ari adalah jika perbekalannya habis, atau jika persediaan makanan untuk keluarganya di Madinah tinggal sedikit, mereka mengumpul kan apa yang mereka miliki dalam satu kain, lalu mereka membagikannya di antara mereka pada tempat mereka masing-masing dengan sama rata. Mereka adalah bagian dariku, dan aku adalah bagian dari mereka." HR. Muttafaq 'alaih. 5. Memberikan Penghormatan yang Istimewa. Intervensi dalam urusan pribadi tetangga adalah salah satu sebab yang dapat menimbulkan ketidakharmonisan dalam bertetangga. Seperti menanyakan hal-hal yang sangat pribadi. Contoh “Berapa gajimu?” “Berapa pengeluaranmu tiap bulan?” “Berapa uang simpananmu?” “Kamu punya berapa rekening?” Dan lain sebagainya. Seorang muslim yang baik adalah seorang yang memperhatikan tata krama dalam bertetangga, tidak mencampuri urusan yang tidak bermanfaat baginya, dan tidak menanyakan urusan-urusan orang lain yang bersifat pribadi. Nabi Saw juga bersabda, "Di antara baiknya Islam seseorang adalah meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat baginya." HR. at-Tirmidzi. 6. Menerima Udzur permohonan maaf. Bersikap toleransi dengan tetangga, dan lemah lembut dalam berinteraksi dengannya merupakan salah satu kiat untuk menarik simpati tetangga. Contohnya Dengan menerima permohonan maaf darinya, dan menganggap seolah-olah ia tidak pernah melakukan kesalahan tersebut. Karena tidak ada manusia yang tidak pernah berbuat salah. Bahkan yang lebih utama adalah memaafkannya sebelum ia meminta maaf. Sikap inilah yang dapat menambah kecintaan tetangga kepada kita. 7. Menasehati dengan Lemah Lembut. Manusia yang berakal tentu tidak akan menolak nasehat, dan tidak pula membenci orang yang menasehatinya. Tetapi umumnya manusia tidak menerima kalau dirinya dinasehati dengan cara dan sikap yang kasar serta tidak beretika. Allah Swt sungguh telah memuji Nabi Saw dan mengaruniakan sifat lemah lembut kepada beliau, sebagai- mana firman-Nya, فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ artinya, "Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu…" QS. Ali 'Imran 159. Nabi Saw bersabda, "Sesungguhnya Allah Maha Lembut, Dia mencintai kelembutan dalam segala urusan." HR. Muttafaq 'alaih. 8. Menutup Aib. Seorang mu'min adalah seorang yang mencintai saudara-saudaranya, menutup aibnya, bersabar atas kesalahannya, dan menginginkan saudaranya selalu mendapatkan kebaikan ,taufiq serta istiqamah. Dengan sikap ini pula kita akan meraih simpati dan cinta tetangga. Nabi Saw bersabda, "Barang siapa yang menutupi aib seorang muslim, maka Allah akan menutup aibnya di dunia dan di Akhirat." HR. Muslim. 9. Saling Berkunjung. Nabi Saw bersabda tentang keutamaan berkunjung ini, "Sesungguhnya ada seorang yang mengunjungi saudaranya di suatu kampung. Maka Allah Swt mengutus seorang malaikat untuk mengawasi perjalanannya. Malaikat tadi bertanya kepadanya, "Mau ke mana kamu?” Lalu ia menjawab, "Saya mau mengunjungi saudaraku di kampung." Lalu ia bertanya kembali, "Apa kamu ingin mengambil hakmu darinya?” Ia menjawab, "Tidak, tetapi karena saya mencintainya karena Allah”. Dia berkata, "Sesungguhnya aku adalah utusan Allah Swt kepadamu, dan sesungguhnya Allah Swt mencintaimu sebagaimana kamu mencintai saudaramu karena-Nya." HR. Muslim. Seseorang hendaknya mencari waktu yang tepat untuk mengunjungi tetangganya. Tidak mendatanginya dengan tiba-tiba atau tanpa mengabarinya terlebih dahulu atau meminta izin kepadanya. Dan hendaklah tidak membuat tetangga merasa terbebani atau direpotkan dengan kunjungannya. Maka hendaklah ia tidak terlalu sering berkunjung, khawatir kalau hal itu membosankannya dan membuatnya menjauhkan diri darinya. Dan juga hendaklah tidak duduk berlama-lama saat berkunjung. Kiat-kiat inilah yang dapat membuat tetangga senang menyambut kunjungan kita, bahkan merindukan kedatangan kita untuk kali berikutnya. 10. Bersikap Ramah. Di antara sekian banyak kiat sukses meraih simpati para tetangga dan mempererat hubungan di antara para tetangga adalah dengan bersikap ramah tamah terhadap mereka dengan ungkapan dan ucapan yang baik dan lembut, atau dengan memberikan hadiah istimewa kepadanya, atau dapat pula dengan mengundang mereka untuk makan di rumah kita, dan lain sebagainya. Allah Swt berfirman, قَوْلٌ مَعْرُوفٌ وَمَغْفِرَةٌ خَيْرٌ مِنْ صَدَقَةٍ يَتْبَعُهَا أَذًى ۗ وَاللَّهُ غَنِيٌّ حَلِيمٌ artinya, "Perkataan yang baik dan pemberian ma'af lebih baik dari sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan si penerima. Allah Maha Kaya lagi Maha Penyantun". QS. Al-Baqarah 263. Nabi Saw bersabda, "Saling memberi hadiah, niscaya kalian akan saling mencintai." HR. al-Bukhari. Demikianlah sahabat bacaan madani adab atau etika terhadap tetangga dan masyarakat. Mudah-mudahan adab-adab tersebut bisa kita amalkan dalam kehidupan sehari-hari. Aamiin.
Naskah khutbah Jumat kali ini menjelaskan tentang bagaimana akhlak seorang Muslim dalam bertetangga. Naskah khutbah ini menginagtkan kita betapa pentingnya menjaga keharmonisan dengan tetangga. Teks khutbah Jumat berikut ini berjudul "Khutbah Jumat Akhlak Kepada Tetangga". Untuk mencetak naskah khutbah Jumat ini, silakan klik ikon print berwarna merah di atas atau bawah artikel ini pada tampilan dekstop. Semoga bermanfaat! Redaksi الحَمْدُ لِلّٰهِ الْمَلِكِ الدَّيَّانِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ سَيِّدِ وَلَدِ عَدْنَانَ، وَعَلَى اٰلِهِ وَصَحْبِهِ وَتَابِعِيْهِ عَلَى مَرِّ الزَّمَانِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ الْمُنَـزَّهُ عَنِ الْجِسْمِيَّةِ وَالْجِهَةِ وَالزَّمَانِ وَالْمَكَانِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ كَانَ خُلُقُهُ الْقُرْآنَ أَمَّا بَعْدُ، عِبَادَ الرَّحْمٰنِ، فَإنِّي أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ المَنَّانِ، الْقَائِلِ فِي كِتَابِهِ الْقُرْآنِ وَتَعَاوَنُوْا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوٰىۖ وَلَا تَعَاوَنُوْا عَلَى الْاِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ۖوَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗ اِنَّ اللّٰهَ شَدِيْدُ الْعِقَابِ Ma’asyiral muslimin rahimakumullah Pada hari yang mulia ini, khatib menyeru kepada jamaah sekalian untuk senantiasa menjaga dan meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah dengan semaksimal mungkin, takwa dalam artian menjauhi segala larangan yang ditetapkan Allah subhânahu wa ta’âla dan menjalankan perintah-Nya. Karena dengan ketakwaan, setiap persoalan hidup yang kita alami akan ada jalan keluarnya dan akan ada pula rezeki yang datang kepada kita tanpa disangka-sangka. Jama’ah shalat Jumat yang dimuliakan Allah Sebagai makhluk sosial, manusia akan selalu berinteraksi dengan lingkungannya. Oleh sebab itu, Islam sangat memperhatikan cara menjaga hubungan sosial agar tetap harmonis. Salah satunya adalah menjaga hubungan dengan tetangga. Sebagai orang yang hidupnya berdampingan dengan kita, tentu tetangga merupakan orang yang paling melakukan interaksi dengan kita. Terkait perintah menjaga hubungan baik dengan tetangga, dalam Al-Qur’an surat An-Nisa ayat 36, Allah berfirman وَٱعۡبُدُواْ ٱللَّهَ وَلَا تُشۡرِكُواْ بِهِۦ شَيۡٔٗاۖ وَبِٱلۡوَٰلِدَيۡنِ إِحۡسَٰنٗا وَبِذِي ٱلۡقُرۡبَىٰ وَٱلۡيَتَٰمَىٰ وَٱلۡمَسَٰكِينِ وَٱلۡجَارِ ذِي ٱلۡقُرۡبَىٰ وَٱلۡجَارِ ٱلۡجُنُبِ وَٱلصَّاحِبِ بِٱلۡجَنۢبِ وَٱبۡنِ ٱلسَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتۡ أَيۡمَٰنُكُمۡۗ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ مَن كَانَ مُخۡتَالٗا فَخُورًا Artinya “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, dan teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri.” Pada ayat di atas terdapat kata al-jâr yang memiliki arti tetangga. Menurut Imam Ibnu Katsir dalam tafsrinya menjelaskan, kata al-jâri dzil qurbâ diperuntukkan bagi tetangga yang masih memiliki hubungan kerabat. Sedangkan al-jâri junub diperuntukkan bagi tetangga yang tidak memiliki hubungan kerabat. Dalam riwayat lailn, al-jâri dzil qurbâ diartikan sebagai tetangga Muslim, sementara al-jâri junub adalah non-Muslim. Mencermati penjelasan Ibnu Katsir, ayat Al-Qur’an tersebut memberi pesan pada kita semua bahwa hubungan antara sesama tetangga, baik tetangga yang masih ada hubungan kerabat atau tidak, baik yang sesama Muslim atau bukan, harus terjalin dengan rukun. Dalam beberapa hadits, Rasulullah SAW banyak menyinggung perintah untuk menghormati tetangga. Di antaranya hadits berikut عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلاَ يُؤْذِ جَارَهُ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا، أَوْ لِيَصْمُتْ. رواه البخاري. Artinya "Dari Abu Hurairah, ia berkata Telah bersabda rasulullah SAW “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka janganlah menyakiti tetangganya. Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka muliakanlah tamunya. Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata yang baik atau diamlah.” HR. al-Bukhari. Sebenarnya hadits di atas sudah sangat cukup untuk dijadikan dasar dalam menghormati tetangga. Saking besarnya tuntutan untuk menghormati tetangga, sampai-sampai langsung dikaitkan dengan keimanan. Barangsiapa yang benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir, maka berbuat baiklah terhadap tetangga. Dalam hadits lain, Rasullullah juga menegaskan bahwa seorang Muslim yang baik adalah Muslim yang mau berbuat baik terhadap tetangganya. Berikut sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Ibnu Majah قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا أَبَا هُرَيْرَةَ كُنْ وَرِعًا تَكُنْ أَعْبَدَ النَّاسِ وَكُنْ قَنِعًا تَكُنْ أَشْكَرَ النَّاسِ وَأَحِبَّ لِلنَّاسِ مَا تُحِبُّ لِنَفْسِكَ تَكُنْ مُؤْمِنًا وَأَحْسِنْ جِوَارَ مَنْ جَاوَرَكَ تَكُنْ مُسْلِمًا وَأَقِلَّ الضَّحِكَ فَإِنَّ كَثْرَةَ الضَّحِكِ تُمِيتُ الْقَلْبَ Artinya “Rasulullah SAW bersabda Wahai Abu Hurairah, Jadilah kamu seorang yang wara’, niscaya kamu menjadi manusia yang paling taat beriabadah. Jadilah kamu orang yang merasa berkecukupan, niscaya kamu menjadi manusia yang paling bersyukur. Cintailah mmanusia seperti kamu mencintai dirimu sendiri, niscaya kamu akan menja di seorang mukmin. Perbaikilah hubungan dalam bertetangga dengan tetanggamu, niscaya kamu akan menjadi seorang Muslim yang baik. Dan sedikitkanlah tertawa, karena banyak tertawa akan mematikan hati." HR Ibnu Majah Rasulullah juga pernah berpesan agar siapa yang benar-benar mencintai Allah dan rasul-Nya, maka hendaklah berbuat baik kepada tetangganya. Sebagaimana dijelaskan oleh salah satu hadits yang terdapat dalam kitab Jamî’ush Shaghîr إِنْ أَحْببْتُمْ أَنْ يُحِبَّكُمُ اللهُ تَعَالَى وَ رَسُوْلُهُ فَأَدُّوْا إِذَا ائْتُمِنْتُمْ وَأُصْدُقُوْا إِذَا حَدَّثْتُمْ وَ أَحْسِنُوْا جِوَارَ مَنْ جَاوَرَكُمْ Artinya “Jika kalian ingin dicintai oleh Allah dan rasul-Nya, maka penuhilah amanat-amanat kalian, jujurlah saat berbicara, dan berbuat baiklah dengan tetangga.” Menjelaskan maksud berbuat baik dalam hadits di atas, Imam Al-Munawi dalam Faidhul Qadîr mengatakan, berbuat baik dengan tetangga pada hadits tersebut ada banyak cara, seperti memberi kenyamanan jalan yang biasa dilalui tetangga, berinteraksi sosial dengan baik, dan mengingatkannya bahwa orang yang berkhianat, berbohong, serta tidak berlaku baik dengan sesama tetangga, tidak akan dicintai oleh Allah dan rasul-Nya. Termasuk keutamaan berbuat baik dengan tetangga adalah dapat memperpanjang usia. Rasulullah SAW pernah bersabda, إِنَّهُ مَنْ أُعْطِيَ حَظَّهُ مِنَ الرِّفْقِ، فَقَدْ أُعْطِيَ حَظَّهُ مِنْ خَيْرِ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ، وَصِلَةُ الرَّحِمِ وَحُسْنُ الْخُلُقِ وَحُسْنُ الْجِوَارِ يَعْمُرَانِ الدِّيَارَ، وَيَزِيدَانِ فِي الْأَعْمَارِ Artinya “Sesungguhnya barang siapa yang dikaruniai sifat lembut dan santun, berarti telah dikaruniai kebaikan dunia dan akhirat yang banyak. Menyambung tali silaturahmi, berakhlak mulia dan menjadi tetangga yang baik, hal itu akan memakmurkan negeri dan memanjangkan umur.” HR Ahmad Hadirin jama’ah shalat Jumat yang dimuliakan Allah SWT Untuk menjaga hubungan dengan tetangga, ada beberapa hak-hak tetangga yang harus kita penuhi. Imam Al-Ghazali dalam risalahnya yang bejudul Majmu’ah Rasail Imam al-Ghazali, menyebutkan beberapa etika dalam bertetangga آدَابُ الجَارِ اِبْتِدَاؤُهُ بِالسَّلَامِ، وَ لَا يُطِيْلُ مَعَهُ الْكَلَام،َ وَلَا يُكْثِرُ عَلَيْهِ السُّؤَالَ، وَيَعُوْدُهُ فِي مَرَضِهِ، وَيُعْزِيْهِ فِي مُصِيْبَتِهِ، وَيُهَنِّيْهِ فِي فَرَحِهِ، ويتلطف لولده و عبده في الكلام، وَيَصْفَحُ عَنْ زَلَّتِهِ، وَمُعَاتَبَتُهُ بِرِفْقٍ عِنْدَ هَفْوَتِهِ، وَيَغُضُّ عَنْ حُرْمَتِهِ، وَيُعِيْنُهُ عِنْدَ صَرْخَتِهِ، وَلَا يُدِيْمُ النَّظْرَ إِلَى خَادِمَتِهِ Artinya “Beberapa etika dalam bertetangga, yaitu mendahului berucap salam, tidak lama-lama berbicara, tidak banyak bertanya, menjenguk yang sakit, berbela sungkawa kepada yang tertimpa musibah, ikut bergembira atas kegembiraannya, berbicara dengan lembut kepada anak tetangga dan pembantunya, memaafkan kesalahan ucap, menegur secara halus ketika berbuat kesalahan, menundukkan mata dari memandang istrinya, memberikan pertolongan ketika diperlukan, tidak terus-menerus memandang pembantu perempuannya.” Karena tidak mesti tetangga kita dari sesama Muslim, maka kita juga harus pandai-pandai memposisikan diri dalam berinteraksi dengan tetangga. Setidaknya ada tiga kategori tetangga yang bisa kita kelompokkan. Pertama adalah tetangga sesama Muslim yang masih memilki ikatan kerabat. Mereka memiliki hak sebagai orang Islam, hak sebagai kerabat, dan hak sebagai tetangga. Kedua adalah tetangga sesama Muslim tetapi tidak ada memiliki ikatan kerabat. Ia memiliki hak sebagai orang Islam dan hak tetangga. Sementara yang ketiga adalah tetangga yang berbeda agama dan bukan kerabat. Mereka tetap mendapatkan hak sebagai tetangga yang harus kita hormati dan menjaga keharmonisan dengannya. Bagi orang yang hidup di lingkungan padat penduduk, mungkin memiliki tetangga yang tidak sedikit. Dalam hal ini tentu kita tidak bisa memenuhi hak-hak tetangga dengan sama rata. Solusinya adalah kita mendahulukan tetangga yang jarak rumahnya paling dekat, karena mereka yang lebih tahu tentang keseharian kita di rumah dibanding tetangga lainnya. Misalkan kita sedang memasak makanan. Maka dahulukan tetangga terdekat. Syukur jika masih bisa berbagi dengan seluruh tetangga yang ada. Khutbah II الْحَمْدُ لِلّٰهِ وَ الْحَمْدُ لِلّٰهِ ثُمَّ الْحَمْدُ لِلّٰهِ. أَشْهَدُ أنْ لَآ إلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ القِيَامَةِ أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يٰأَ يُّها الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِ سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ. اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ، اَلْأَحْياءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ والقُرُوْنَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتَنِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا إِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عامَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ اللّٰهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ وَأَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلًا وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ. رَبَّنَا اٰتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. وَاَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتاءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشاءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَر Ustadz M Abror, pengajar Mahad Ali Pesantren As-Shiddiqiyah, Kedoya, Jakarta Barat. Konten ini hasil kerja sama NU Online dan Biro Humas, Data, dan Informasi Kementerian Agama RI
diantara hikmah berakhlak kepada tetangga adalah